Al-Fatihah #2

Al-Fatihah #2

150x 150 cm

Woven painting, oil on canvas and camouflage military fabric

2018

Karya ini dipamerkan dalam Pameran SSAS/AS/IDEAS, Kolaborasi Bale Project dengan 20 Seniman, Memperingati 20 tahun Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bale Tonggoh, SSAS, Bandung.

Karya ini terinspirasi dari kata-kata Bung Karno yang menyebutkan; “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Jika melihat keadaan yang terjadi saat ini, kutipan tersebut terasa sangat relevan. Di tengah demokrasi yang sedang berjalan, ternyata publik sangat mudah terpecah belah. Momen pemilu selalu menjadi masa-masa yang rawan. Teman baik bisa bertengkar karena beda pilihan dan pandangan. Hoax yang beredar bisa menyinggung isu SARA yang sangat sensitif.

Sebagai seorang muslim, saya pribadi sangat terganggu dengan apa yang terjadi saat Pemilu Gubernur DKI Jakarta 2017. Polemik yang terjadi membuat saya merasakan hal yang campur-aduk dan bertanya pada diri sendiri: apakah masih mungkin menjadi pribadi muslim namun tetap demokratis dan pro pada nasionalisme?

Pertanyaan itu mendorong saya untuk kemudian menyelami sejarah. Di sana saya menemukan fakta bahwa pernah ada satu usaha untuk mendirikan Negara Islam Indonesia, dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Diproklamirkan pada 7 Agustus 1949, gerakan tersebut baru berhasil ditumpas 13 tahun kemudian. Satu hal yang patut disyukuri, namun juga dikasihani karena bagaimanapun, Kartosuwiryo dan pasukannya adalah bangsa Indonesia juga. Lebih jauh lagi, ada cerita yang menyebutkan bahwa Soekarno menangis ketika menandatangani surat eksekusi Kartosuwiryo.

Berkaca pada situasi saat ini, kisah NII/DI/TII bisa menjadi pengingat yang sangat penting. Indonesia adalah Negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, namun bukan Negara Islam Indonesia. Bahwa perbedaan yang ada janganlah ditarik, ditekan, ditegaskan, diproklamirkan sehingga berujung pada perang saudara.

Renungan di atas kemudian saya wujudkan dalam karya yang menampilkan Sang Pemberontak, Sayatan, Militer, dan Doa.

 

Patriot, Bandung, Agustus 2018

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *