Art and Peace for Football

Art and Peace for Football

Variable dimensions

Installations of three-sided phototransfer on wooden bars and found objects

2017

Exhibited in Jogja Biennale XIV 2017, Indonesia meets Brasil.

 

 

Sepakbola di Indonesia adalah satu hal yang dapat menggerakkan orang banyak. Fanatisme yang luar biasa diimbangi dengan praktik sepakbola yang meluas ke seluruh penjuru negeri. Akan tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan prestasi tim sepakbola Nasional maupun klub kita di kancah Internasional. Belum lagi persoalan lain seperti carut-marutnya pengelolaan liga beberapa waktu lalu, ketidaksiapan klub dalam anggaran, telatnya penggajian pemain, sampai ke kerusuhan antar supporter. Yang paling terbaru adalah kasus memilukan dimana ada satu supporter dari Persib Bandung yang meninggal dunia setelah dikeroyok oleh supporter Persib Bandung lainnya karena salah duga dianggap sebagai supporter Persija. Sepakbola yang diharapkan membantu penggemarnya untuk sejenak melupakan permasalahan dalam hidup justru menjadi sumber masalah baru yang membebani. Namun di sisi lain, ada momen dimana sepakbola bisa menjadi media pemersatu. Yakni saat kisruh isu pilkada Jakarta di awal tahun ini, ada momen dimana tensi mendingin di antara kedua belah pihak yang berseteru karena tim sepakbola Indonesia sedang bertanding dan disiarkan di televisi. Perbedaan yang ada untuk sementara dilampaui oleh kebersamaan dalam mendukung timnas. Hal ini menunjukkan betapa banyak lapisan yang dapat ditelaah dalam persoalan sepakbola di Indonesia.

Seni sebagai suatu bidang, dapat menjadi media refleksi kritis dari satu fenomena sosial di sekitar. Karena itu pula, seni juga relevan untuk mengangkat isu ini ke permukaan. Dalam membuat karya ini, saya mengambil referensi karya Tisna Sanjaya tahun 2000 yang berjudul Art and Football for Peace dimana lewat seni dan pertandingan sepakbola yang dilangsungkan ia menyuarakan nilai-nilai perdamaian. Namun bedanya,  di sini saya menggunakan seni dan perdamaian untuk menyuarakan nilai-nilai sepakbola itu sendiri. Hal ini lah yang saya coba refleksikan dalam karya yang ditampilkan di Biennale Jogja kali ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *